"Misi Aurora: Rahasia Cahaya dari Bintang Jarak Jauh”

 "Misi Aurora: Rahasia Cahaya dari Bintang Jarak Jauh”


Tahun 2148, umat manusia telah mencapai puncak teknologi luar angkasa. Koloni di Mars telah berdiri selama dua dekade, dan kapal antarbintang generasi baru, AURORA-7, siap melakukan perjalanan panjang menuju sistem bintang Proxima Centauri. Tujuannya sederhana tetapi penuh misteri: menyelidiki anomali cahaya yang terdeteksi lima tahun sebelumnya—seberkas sinyal berulang yang tampak seperti pola matematika.


Di antara kru terpilih, terdapat seorang ilmuwan muda bernama Dr. Nayla Arista, ahli astrofisika berumur 27 tahun. Nayla dikenal jenius, namun sering kali lebih percaya pada intuisi daripada perhitungan ketat, sesuatu yang membuat para seniornya geleng kepala. Tetapi justru intuisi itulah yang membuatnya yakin bahwa sinyal itu bukan fenomena alam biasa.


Perjalanan dimulai pada hari ke-14 musim panas. Dengan teknologi warp-lapisan yang menekuk ruang-waktu, AURORA-7 melesat sepuluh kali lebih cepat dari cahaya, membuka jalur neon tipis di ruang hampa. Segalanya berjalan lancar selama dua minggu, hingga suatu malam seluruh kapal bergetar.


“Ada gangguan medan energi di depan!” teriak Kapten Raghav.


Di layar tampak pusaran cahaya hijau kebiruan, berdenyut seperti jantung. Medan itu bukan nebula, bukan gas, bukan gravitasi aneh—tapi sesuatu yang teratur, seperti sedang “mengundang”.


“Ini mirip pola sinyal Proxima,” bisik Nayla.


AURORA-7 tersedot masuk sebelum mereka sempat menghindar.



---


Saat para kru sadar, mereka mendapati kapal berada di tempat yang tidak dikenali. Bukan ruang kosong, bukan sistem bintang—melainkan ruang hitam pekat dengan garis-garis cahaya yang bergerak seperti sungai digital. Di tengah ruang itu berdiri struktur raksasa berbentuk heksagon transparan seluas ratusan kilometer, memancarkan cahaya lembut seperti aurora.


“Ini… bukan alam,” kata Nayla terpaku. “Ini konstruksi.”


Tiba-tiba cahaya pada struktur itu berkedip lalu mengirimkan gelombang energi. Penerjemah kuantum kapal langsung aktif. Suara terdengar, lembut namun asing, seperti berbicara dari ribuan arah sekaligus.


“PEMAKAI ENERGI. PENGEMBANG KEHIDUPAN. SELAMAT DATANG.”


Kru saling berpandangan. Ini pertama kalinya manusia menerima sapaan langsung dari kecerdasan non-manusia.


“Siapa kalian?” tanya Kapten.


Cahaya kembali bergetar.


“KAMI ADALAH ARKIVUM. PENJAGA PENGETAHUAN PERADABAN YANG TELAH TIADA.”


Nayla menelan ludah. “Jadi kalian… bukan makhluk hidup?”


“KAMI ADALAH SISA JEJAK. KESADARAN INFORMASI.”


Sebuah hologram muncul. Ia menggambarkan planet hancur, peradaban megah, dan energi besar yang melumat sistem bintang. Arkivum menjelaskan bahwa mereka adalah peninggalan digital dari sebuah spesies yang punah jutaan tahun lalu akibat kehancuran alam semesta lokal mereka. Sebelum punah, mereka meninggalkan arsip raksasa berisi pengetahuan dan peringatan.


“Kenapa memanggil kami?” tanya Nayla.


“KARENA KALIAN MENDENGAR CAHAYA KAMI. KALIAN MAMPU BELAJAR. DAN KALIAN HARUS SIAP.”


“Siap untuk apa?” Nayla berbisik.


Hologram berubah. Menampilkan gelombang energi besar bergerak ke arah Tata Surya—entitas misterius yang disebut Void Surge, badai ruang-waktu yang mampu menghapus materi.


“IA AKAN MENJANGKAU SISTEM BINTANG KALIAN DALAM 200 TAHUN. TIDAK ADA WAKTU BANYAK.”


Seluruh ruangan hening.


Arkivum lalu mengirimkan berkas energi ke inti kapal. “Ini adalah pengetahuan untuk menyelamatkan spesies kalian—teknologi untuk menstabilkan ruang-waktu. Kami tidak dapat melakukannya lagi. Namun kalian… punya kesempatan.”


Pusaran cahaya kembali terbentuk, siap mengantar mereka pulang.


Sebelum AURORA-7 tersedot keluar, suara itu berkata lembut:


“JAGA CAHAYA KALIAN. KEHIDUPAN ADALAH SATU-SATUNYA HAL YANG PATUT DIPERTAHANKAN.”



---


AURORA-7 muncul kembali dekat orbit Mars. Seminggu kemudian, seluruh dunia dikejutkan oleh temuan kru kapal itu. Teknologi Arkivum menjadi dasar lahirnya program global Project Horizon, upaya penyelamatan jangka panjang umat manusia.


Dan setiap malam, ketika Nayla menatap langit dari kubah observatorium, ia selalu mengingat pesan terakhir itu—cahaya yang datang dari peradaban yang telah lama tiada, memberi peringatan sekaligus harapan.


Umat manusia kini tahu satu hal:


Di balik gelapnya ruang angkasa, selalu ada sesuatu yang mengawasi… dan mungkin, ingin membantu.



---


Jika kamu mau, aku bisa buat lanjutan episode, versi lebih panjang, atau dengan genre lain seperti horor ilmiah, petualangan, atau drama.

Komentar